Jika Tuhan Ada Dimana Mana, Mengapa Kita Harus Sembahyang Di Pura?
Konsep Wyapa Wyapaka, atau Tuhan yang ada di mana-mana, merupakan inti ajaran agama Hindu. Kehadiran Tuhan yang maha esa dan tak terbatas ini bukanlah suatu konsep yang membatasi ibadah hanya di satu tempat tertentu, seperti pura. Pura, pada hakikatnya, merupakan tempat suci yang difungsikan sebagai stana, tempat persembahyangan dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keberadaannya sebagai tempat suci membantu umat Hindu untuk memfokuskan pikiran dan batin mereka dalam beribadah.
Kehadiran Tuhan yang wyapa wyapaka dijelaskan dalam berbagai kitab suci Hindu, seperti:
Dalam Bhagavad Gita 10.41-42, Tuhan digambarkan sebagai Akshara Brahman, yang tak tercipta, tak terhingga, dan meliputi segalanya. Kṛṣṇa, sebagai manifestasi Tuhan, menyatakan dirinya sebagai sumber dari segala sesuatu dan berada di dalam setiap makhluk.
Sementara dalam Upanishad: menjelaskan konsep Brahman, realitas mutlak yang merupakan sumber dan dasar dari segala sesuatu. Brahman digambarkan sebagai nirguna Brahman (tanpa atribut) dan saguna Brahman (dengan atribut). Konsep wyapa wyapaka merupakan aspek nirguna Brahman, kehadiran Tuhan yang tak terbatas dan meliputi seluruh alam semesta. (Contoh: Chandogya Upanishad, 6.2.1)
Sedangkan Brahma Sutra merumuskan konsep Brahman secara sistematis, menjelaskan kesatuan dan kemahakuasaan Tuhan. Konsep wyapa wyapaka tersirat dalam penjelasan mengenai Brahman sebagai sumber dan dasar dari segala sesuatu.
Meskipun Tuhan ada di mana-mana (wyapa wyapaka), pura tetap memiliki peranan penting dalam kehidupan keagamaan umat Hindu. Pura bukanlah tempat untuk "mencari" Tuhan, karena Tuhan sudah ada di dalam diri setiap individu. Namun, pura berfungsi sebagai:
- Tempat untuk memfokuskan pikiran dan batin: Suasana sakral di pura membantu umat Hindu untuk berkonsentrasi dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
- Tempat untuk melakukan ritual dan persembahan: Ritual dan persembahan di pura merupakan wujud penghormatan dan bakti kepada Tuhan.
- Tempat untuk menjalin persatuan dan kebersamaan: Pura menjadi tempat berkumpulnya umat Hindu, mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan.
- Simbol manifestasi Tuhan: Pura dapat dianggap sebagai simbol kehadiran Tuhan di dunia.
Oleh karena itu, bersembahyang di pura bukan berarti membatasi keberadaan Tuhan hanya di tempat tersebut. Sebaliknya, itu merupakan suatu bentuk penghormatan dan upaya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang wyapa wyapaka, yang hadir di mana-mana, termasuk di dalam diri kita sendiri. Pura hanyalah sarana untuk mencapai tujuan spiritual yang lebih
Jika Tuhan Ada di Mana-mana, Mengapa Kita Harus Mencari-Nya?
Frasa yang sangat indah dan mendalam dalam ajaran Hindu Dharma mengajarkan bahwa Tuhan itu ada di mana-mana. Tidak ada satu pun titik di alam semesta ini yang luput dari kehadiran-Nya. Dia ada di langit, ada di bumi, ada di air, ada di angin, dan ada di dalam api. Segala sesuatu adalah perwujudan dari-Nya.
Lebih dari itu, ajaran suci juga menegaskan bahwa Tuhan tidak hanya berada di luar diri kita. Tuhan juga bersemayam di dalam hati kita sendiri. Ia hadir sebagai Atman, yaitu jiwa yang suci, yang merupakan percikan kecil, sinar, atau bagian tak terpisahkan dari Sang Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Seperti setetes air yang memiliki sifat yang sama dengan samudra luas, begitulah Atman di dalam diri kita bersifat sama dengan Brahman.
Jika kebenarannya sedemikian rupa, jika Tuhan itu sedekat nadi, bahkan lebih dekat daripada itu, maka muncullah pertanyaan besar yang sering membingungkan:
"Lalu untuk apa kita bersusah payah mencari Tuhan ke mana-mana? Mengapa kita harus pergi ke pura, ke gunung, atau ke tempat suci lainnya jika Dia sebenarnya sudah ada di dalam sini?"
Jawabannya terletak pada perbedaan antara pengetahuan dan pengalaman, serta perbedaan antara fakta dan kesadaran.
Memang benar secara hakikatnya Tuhan ada di mana-mana. Namun, mata hati kita sering kali buta. Pikiran kita terlalu banyak dipenuhi oleh keramaian, nafsu, keinginan duniawi, dan kekotoran batin. Seperti matahari yang sebenarnya selalu bersinar terang, tapi jika langit tertutup oleh awan hitam yang tebal, maka cahayanya tidak bisa sampai ke tanah. Begitulah Tuhan ada, tapi kita tidak bisa merasakan-Nya karena hati kita tertutup oleh kegelisahan dan kebodohan.
Kita "mencari" Tuhan ke mana-mana bukan karena Dia hilang atau bersembunyi. Kita mencari-Nya sebagai sebuah proses ingat kembali atau Anusmriti. Kita pergi ke tempat suci, kita duduk bersila, kita berdoa, itu semua adalah cara untuk menenangkan pikiran agar kita bisa sadar dan menyadari kehadiran-Nya yang sebenarnya sudah ada di dalam diri.
Sebagaimana tertulis jelas dalam kitab suci Bhagavad Gita Bab 6 Ayat 25:
"Sa shanti mabhigacchati mad-bhakto labhate param ||"
Artinya:
"Dengan pikiran yang terkendali dan tenang, seseorang akan mencapai kedamaian dan akhirnya bersatu dengan-Ku."
Ayat ini mengajarkan bahwa proses mencari itu adalah upaya untuk menenangkan batin. Saat kita pergi ke pura, lingkungan yang suci membantu kita untuk lebih mudah khusyuk. Saat kita melihat arca atau simbol Tuhan, itu membantu kita memfokuskan pikiran yang tadinya liar agar bisa tertuju pada-Nya.
Selain itu, ada juga dalil dari ajaran Upanishad yang berbunyi:
"Brahma Satyam Jagat Mithya"
(Brahman itu benar/nyata, dunia ini tidak kekal)
Dan juga ajaran "Aham Brahmasmi" yang artinya "Aku adalah Brahman".
Namun, menyadari "Aku adalah Brahman" tidak bisa didapatkan hanya dengan membaca buku. Itu harus dicari melalui latihan batin, melalui ibadah, dan melalui perjalanan spiritual. Kita mencari Tuhan ke luar agar kita bisa menemukan-Nya ke dalam.
Jadi, jangan salah paham. Kita tidak mencari karena Tuhan jauh. Kita mencari karena kita sendiri yang sering lupa dan jauh dari kesadaran. Aktivitas beribadah, pergi ke tempat suci, dan memuja Tuhan adalah cara kita membersihkan cermin hati, sehingga pada akhirnya kita bisa melihat dengan jelas bahwa Tuhan itu ada di luar, ada di dalam, dan ada di segala tempat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar