Jika Tuhan Hanya Satu, Mengapa Ada Banyak Agama?
Frasa suci "Ekam Eva Adwityam Brahman" mengajarkan kita sebuah kebenaran mutlak yang paling dasar. Artinya: "Tuhan itu Satu, Tidak Ada Duanya." Hanya ada satu Sumber Kehidupan, satu Pencipta, dan satu Pengatur alam semesta ini. Tidak ada yang menyamai-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, dan tidak ada yang bisa menandingi kekuasaan-Nya.
Namun, ketika kita melihat kenyataan di dunia ini, pertanyaan besar pun muncul: "Jika Tuhannya hanya satu, mengapa jalan atau agamanya begitu banyak dan beraneka ragam?" Mengapa ada Hindu, Islam, Kristen, Buddha, dan berbagai kepercayaan lainnya? Apakah Tuhan yang berbeda-beda? Atau apakah salah satu dari jalan ini ada yang salah?
Jawabannya tersimpan dalam pemahaman yang indah dan luas tentang hakikat Tuhan dan manusia. Tuhan memang Satu, tetapi manusia yang memandang-Nya berbeda-beda. Seperti halnya air laut yang hanya satu, namun jika kita mengambilnya menggunakan wadah yang berbeda, bentuk dan warnanya akan tampak berbeda pula. Atau seperti matahari yang sama bersinar untuk semua orang, namun cara setiap orang menikmati hangatnya bisa berbeda-beda sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Dalam kitab suci Bhagavad Gita Bab 18 Ayat 46, Ida Sang Hyang Widhi Wasa berfirman melalui lisan Krishna:
"Sarva-karma-phala-phalam tyaktva yatate prabhavapyate |
Sa sarvam parityajya ya mam smarati tatprabhu ||"
Artinya:
"Orang yang menyerahkan segala buah dari perbuatan kepada Tuhan, dan yang berbakti kepada-Ku dengan pikiran yang tertuju kepada-Ku, ia akan mencapai kedamaian yang abadi."
Dan lebih jelas lagi dalam Bhagavad Gita Bab 4 Ayat 11:
"Ye yatha mam prapadyante tams tathaiva bhajamy aham |
Mama vartmanuvartate manushyah partha sarvasah ||"
Artinya:
"Jalan apa saja yang ditempuh oleh manusia untuk mendekat kepada-Ku, akan Kuterima jalan itu. Sebab dalam segala hal, wahai Partha, manusia itu selalu mengikuti jalan-Ku."
Ayat suci ini menjelaskan bahwa Tuhan itu Maha Penerima. Ia tidak menuntut manusia harus datang dengan cara yang kaku dan hanya satu cara. Karena manusia diciptakan dengan berbagai karakter, budaya, bahasa, dan tingkat pemahaman yang berbeda, maka Tuhan pun memberikan jalan yang berbeda-beda agar semua manusia bisa menjangkau-Nya.
Bayangkan sebuah gunung yang sangat tinggi. Puncaknya hanya satu, itu adalah Tuhan. Namun, jalan untuk mendakinya bisa dari utara, selatan, timur, maupun barat. Jalannya berbeda-beda, ada yang curam, ada yang landai, ada yang berhutan, ada yang berbatu. Tetapi tujuannya sama, yaitu mencapai puncak yang sama juga. Begitulah agama-agama di dunia ini. Namanya berbeda, caranya berbeda, ritualnya berbeda, namun tujuannya satu: mencari dan menyembah Sang Pencipta.
Perbedaan agama bukanlah bukti bahwa Tuhannya berbeda, melainkan bukti betapa Maha Besarnya Tuhan sehingga tidak bisa dikungkung oleh satu cara ibadah saja. Tuhan terlalu luas untuk dimasukkan ke dalam satu kotak pemahaman manusia.
Oleh karena itu, seharusnya perbedaan ini tidak menjadi alasan untuk saling bermusuhan atau merasa paling benar sendiri. Justru kita harus saling menghormati. Karena kita semua adalah saudara yang memiliki Bapak yang sama, hanya saja jalan pulang yang kita ambil berbeda sesuai dengan petunjuk yang kita terima.
Tuhan itu Satu, dan kasih-Nya meliputi semua makhluk, tanpa memandang nama agama apa yang dianutnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar