Jumat, 15 Mei 2026

Apakah Dewa-Dewa dan Konsep Ketuhanan Menjadi Jembatan Menuju Sang Sumber Tertinggi?

Apakah Dewa-Dewa dan Konsep Ketuhanan Menjadi Jembatan Menuju Sang Sumber Tertinggi?
 
Dalam samudera ajaran dan kepercayaan yang tumbuh dan berkembang di Nusantara maupun dunia, terdapat benang merah yang indah dan saling melengkapi mengenai cara manusia memahami, menyembah, dan berhubungan dengan kekuatan gaib yang menguasai alam semesta. Meskipun memiliki nama, bentuk, dan cara pemujaan yang berbeda-beda, esensi dari segala keyakinan itu sejatinya mengarah pada satu tujuan besar: mengenal Sang Pencipta, memahami hukum alam, dan menjalani kehidupan yang luhur. Hal ini sangat terlihat jelas jika kita menelusuri ajaran-ajaran besar seperti Hindu, Buddha, dan Konghucu, di mana konsep ketuhanan, keberadaan para dewa, serta penghormatan kepada sosok-sosok suci menjadi landasan utama spiritualitas para pemeluknya. Keberagaman sebutan dan peran ini sering kali menimbulkan pertanyaan besar: apakah keberadaan dewa-dewa atau konsep ketuhanan ini hanya sekadar simbol, ataukah ia menjadi jembatan nyata yang menghubungkan manusia dengan Sang Sumber Tertinggi? Jawaban mendalam dapat kita temukan dengan menelusuri ajaran dan kitab suci masing-masing tradisi tersebut, yang mengungkapkan makna hakiki di balik segala manifestasi dan konsep yang ada.
 
Dalam ajaran Hindu, pemahaman tentang ketuhanan dibangun di atas konsep yang sangat agung dan mendalam, yaitu keberadaan Brahman atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang dipahami sebagai Tuhan Yang Maha Esa, tunggal, mutlak, tanpa bentuk, dan menjadi asal mula segala sesuatu. Agar manusia yang masih memiliki keterbatasan akal dan indra dapat mendekatkan diri, memahami sifat-sifat-Nya, serta memuja-Nya, maka kekuatan tunggal itu mewujud menjadi berbagai manifestasi atau aspek-aspek keilahian yang dikenal sebagai para Dewa. Di antara sekian banyak manifestasi itu, terdapat Trimurti sebagai tiga fungsi utama Tuhan dalam mengelola alam semesta. Pertama adalah Dewa Brahma, yang memiliki tugas suci sebagai pencipta segala kehidupan dan isinya. Kedua adalah Dewa Wisnu, yang bertindak sebagai pemelihara, penjaga, dan penyangga keseimbangan alam semesta agar tetap berjalan tertib dan teratur. Ketiga adalah Dewa Siwa, yang berperan sebagai pelebur, pemulih, sekaligus pembawa perubahan besar dan transformasi kehidupan, di mana segala sesuatu yang sudah waktunya harus kembali ke asalnya untuk kemudian diciptakan kembali dalam bentuk yang baru dan lebih suci.
 
Selain Trimurti, terdapat pula manifestasi lain yang sangat dekat dengan kehidupan manusia dan dijadikan teladan dalam menjalani hidup. Salah satunya adalah Dewi Lakshmi, yang dikenal luas sebagai simbol kemakmuran, kesejahteraan, dan kelimpahan rezeki, baik yang bersifat materi maupun rohani. Ada juga Dewi Saraswati, yang diagungkan sebagai lambang ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, seni, dan segala sesuatu yang mencerahkan akal budi manusia. Segala konsep dan pemahaman ini bukanlah lahir secara sembarangan, melainkan tertulis jelas dan menjadi intisari dari kitab-kitab suci agama Hindu. Dalam Kitab Weda, khususnya bagian Weda Samhita dan Upanishad, dijelaskan dengan sangat mendalam bahwa segala dewa hanyalah nama dan bentuk dari Brahman yang satu itu, yang sifatnya tidak dapat dibatasi oleh apa pun. Penjelasan lebih lanjut mengenai peran dan tugas para Dewa, serta hubungan timbal balik antara manusia dengan kekuatan ilahi ini, juga tertuang rinci dalam Kitab Purana, serta dijabarkan dalam Kitab Bhagavad Gita yang merupakan bagian dari epik besar Mahabharata, di mana dikisahkan bahwa segala sesuatu bersumber dari Dia dan kembali kepada Dia.
 
Berpindah ke ajaran Buddha, kita menemukan nuansa pemahaman yang sedikit berbeda namun tetap memiliki akar spiritual yang sama mengenai kekuatan alam semesta. Ajaran Buddha memang sangat menekankan pada usaha manusia sendiri untuk mencapai pencerahan, membebaskan diri dari penderitaan, dan melepaskan diri dari ikatan duniawi melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan. Namun, hal ini sama sekali tidak menafikan keberadaan makhluk-makhluk ilahi atau kekuatan-kekuatan dewa yang ada di alam semesta. Di dalam kanon kitab suci Buddha, khususnya dalam Tripitaka — yang terbagi menjadi tiga bagian utama yaitu Sutta Pitaka, Vinaya Pitaka, dan Abhidhamma Pitaka — sering kali diceritakan keberadaan para dewa yang menghormati, melindungi, dan mendukung ajaran Dharma serta para makhluk yang berjuang menuju kebijaksanaan.
 
Salah satu sosok dewa yang paling dikenal dalam ajaran ini adalah Indra atau sering disebut juga Sakra, yang dipercaya sebagai pemimpin para dewa yang berdiam di alam surga, memiliki kekuatan besar, dan selalu hadir untuk memuja Sang Buddha serta melindungi kebenaran. Ada pula Brahma Sahampati, sosok dewa agung yang dalam kisah suci tercatat pernah memohon kepada Sang Buddha agar bersedia mengajarkan Dharma kepada seluruh makhluk di dunia, karena Beliau yang pertama kali menyadari bahwa ajaran kebenaran itu sangat berharga bagi keselamatan dunia. Selain itu, dikenal pula para Dewa Lokapala atau empat Dewa Pelindung Penjaga Arah Mata Angin, yang bertugas menjaga keempat penjuru alam semesta, melindungi tempat-tempat suci, dan menangkis segala pengaruh jahat yang berusaha merusak kedamaian serta ajaran kebenaran. Keberadaan para dewa ini dijelaskan dalam berbagai sutta atau khotbah yang terdapat dalam Sutta Pitaka, seperti Digha Nikaya dan Majjhima Nikaya, yang mengajarkan bahwa meskipun dewa-dewa ini memiliki umur panjang dan kekuatan yang dahsyat, mereka pun masih berada dalam lingkaran kelahiran kembali, menghormati Sang Buddha, dan menjadi pendukung utama kelestarian ajaran kebenaran di alam semesta.
 
Sementara itu, dalam ajaran Konghucu atau Ru Jiao, konsep ketuhanan dikemas dalam bentuk yang lebih luhur, abstrak, dan berlandaskan pada kesadaran moral serta keseimbangan alam. Di sini, konsep ketuhanan berpusat pada kepercayaan kepada Tian atau Tuhan Yang Maha Esa, yang dipahami sebagai kekuatan tertinggi, penguasa alam semesta, sumber dari segala keteraturan, dan hukum moral yang mengatur kehidupan manusia. Tian dianggap sebagai kekuatan yang tidak terlihat namun sangat nyata pengaruhnya, yang senantiasa memantau perbuatan manusia, memberikan berkah bagi yang berbuat baik, dan memberikan peringatan bagi yang melenceng dari jalan kebenaran. Di samping penghormatan kepada Tian, ajaran ini juga sangat menekankan penghormatan mendalam kepada para nabi, orang-orang suci, serta para leluhur. Sosok-sosok ini dianggap telah memiliki kebijaksanaan yang luhur, kesempurnaan akhlak, dan menjadi teladan hidup moral yang nyata bagi manusia di dunia. Mereka bukanlah disembah sebagai Tuhan, melainkan dihormati, diteladani, dan dijadikan jembatan komunikasi antara manusia dengan kekuatan alam semesta.
 
Segala prinsip, aturan hidup, dan konsep ketuhanan ini tertuang rapi dalam kitab-kitab suci utama ajaran Konghucu. Kitab Si Shu atau Empat Buku Utama, yang meliputi Lun Yu (Pembicaraan dan Percakapan), Mengzi, Daxue (Ajaran Besar), dan Zhong Yong (Tengah Tak Berubah), menjelaskan secara rinci tentang hubungan manusia dengan Tian, serta bagaimana cara hidup yang selaras dengan kehendak alam semesta melalui kebajikan, kesusilaan, dan bakti. Selain itu, Kitab Wu Jing atau Lima Klasik, di antaranya Kitab Perubahan (Yi Jing), Kitab Sejarah (Shu Jing), Kitab Puji-Pujian (Shi Jing), Kitab Tata Krama (Li Ji), dan Kitab Musim Semi dan Gugur, menjadi sumber ajaran yang menguraikan keterkaitan antara tatanan langit dan tatanan manusia, serta pentingnya menghormati warisan leluhur dan nilai-nilai suci yang diwariskan dari masa ke masa.
 
Dari penjelasan mendalam yang bersumber langsung dari kitab suci masing-masing ajaran ini, kita dapat melihat sebuah kebenaran yang indah dan menyatukan. Baik dalam Hindu yang mengenal banyak dewa sebagai wajah Tuhan, Buddha yang mengakui keberadaan dewa pelindung Dharma, maupun Konghucu yang bertumpu pada konsep Tian dan penghormatan leluhur, semuanya memiliki satu tujuan yang sama. Para dewa, konsep ketuhanan, maupun sosok suci itu bukanlah tujuan akhir pemujaan, melainkan sarana, manifestasi, dan jembatan yang diciptakan untuk membantu manusia mengenal, mendekat, dan menyatu dengan Sang Sumber Tertinggi yang maha luas dan maha tak terbatas. Perbedaan nama dan bentuk hanyalah cara yang berbeda untuk menyampaikan pesan yang sama: bahwa ada kekuatan agung di atas segalanya, dan manusia dituntut untuk hidup selaras, berbuat baik, serta menjaga keseimbangan alam semesta sesuai dengan petunjuk yang telah diturunkan melalui ajaran suci masing-masing. Inilah kekayaan pemahaman spiritual yang mengajarkan kita untuk saling menghormati, menyadari kebesaran Tuhan dalam berbagai wujud, dan menjadikan segala kepercayaan itu sebagai cahaya penuntun menuju kehidupan yang suci dan bermakna.

Kamis, 14 Mei 2026

Apakah Arca dan Simbol Itu Benar-Benar Wujud Tuhan?

Apakah Arca dan Simbol Itu Benar-Benar Wujud Tuhan?
 
Dalam pemahaman mendalam ajaran Hindu, konsep mengenai Tuhan Yang Maha Esa diungkapkan dengan sebutan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau sering pula disebut Sang Hyang Widhi. Nama ini mengandung makna yang sangat luhur dan luas, menunjuk pada Zat Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta, Maha Pemelihara, dan Maha Pelebur segala sesuatu di alam semesta ini. Sifat utama dari Ida Sang Hyang Widhi adalah Maha Tak Terbatas. Artinya, Zat-Nya tidak dibatasi oleh ruang, tidak dibatasi oleh waktu, tidak dibatasi oleh bentuk fisik, ukuran, warna, jenis kelamin, atau sifat-sifat lain yang biasa melekat pada makhluk ciptaan-Nya. Beliau ada sebelum segala sesuatu ada, dan akan tetap ada meski segala sesuatu telah tiada. Beliau adalah sumber dari segala sumber, asal mula dari segala yang bermula, dan tujuan akhir dari segala perjalanan hidup.
 
Namun, manusia sebagai ciptaan Tuhan memiliki keterbatasan yang sangat mendasar. Pikiran, akal budi, dan daya tangkap manusia bersifat terbatas, terikat oleh dimensi ruang dan waktu, serta terbatasi oleh kemampuan indra fisiknya. Karena sifat keterbatasan inilah, akal manusia tidak akan pernah sanggup, tidak akan pernah mampu, dan tidak akan pernah cukup kekuatannya untuk menggambarkan, membayangkan, atau memahami hakikat sejati dari Ida Sang Hyang Widhi secara utuh dan sempurna. Seperti seekor semut yang berjalan di atas permukaan bumi, ia tidak akan sanggup memahami bentuk dan luasnya seluruh dunia; demikian pula manusia, dengan segala keterbatasannya, takkan mampu merengkuh kebesaran dan hakikat Tuhan yang maha luas. Hal ini sejalan dengan apa yang tertulis di dalam Kitab Bhagavad Gita Bab X pasal 39, di mana Sri Krishna bersabda: "Aku adalah hakikat keberadaan segala sesuatu, Aku adalah awal, tengah, dan akhir dari segala makhluk... Tidak ada batas yang dapat mengukur sifat-sifat-Ku." Begitu pula di dalam Kitab Weda, bagian Upanishad, khususnya Brihadaranyaka Upanishad, disebutkan bahwa Tuhan adalah "Yang tidak dapat dilihat oleh mata, tidak dapat didengar oleh telinga, tidak dapat dipikirkan oleh akal, namun Dialah yang membuat mata mampu melihat, telinga mampu mendengar, dan akal mampu berpikir."
 
Karena ketidaksanggupan manusia untuk memahami Zat-Nya yang mutlak itu, maka lahirlah berbagai bentuk sarana, simbol, arca, lukisan, gambaran, dan upacara pemujaan yang kita kenal dalam tradisi Hindu sehari-hari. Sering kali timbul pertanyaan atau kesalahpahaman di kalangan banyak orang, apakah bentuk-bentuk arca, patung, atau simbol-simbol yang dipuja itu adalah wujud asli dari Tuhan? Jawabannya adalah tidak. Arca, simbol, lukisan, maupun segala bentuk penggambaran itu bukanlah wujud Tuhan yang sebenarnya, bukan pula patung atau benda mati yang disembah sebagai dewa. Semua itu hanyalah sarana, hanyalah alat, hanyalah jembatan yang diciptakan dan disepakati bersama untuk membantu manusia dalam mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi.
 
Sarana-sarana itu diciptakan dan digunakan dengan penuh kesadaran, pemahaman, dan bhakti yang tulus. Bagi manusia yang membutuhkan pegangan, membutuhkan sesuatu yang nyata untuk dilihat, disentuh, dan difokuskan pikirannya, maka arca dan simbol itu menjadi sangat berharga. Fungsinya sama seperti peta bagi seorang musafir, atau seperti papan petunjuk jalan bagi seseorang yang sedang mencari arah. Peta itu bukanlah tempat tujuannya, dan papan petunjuk itu bukanlah rumah yang dicari, namun keduanya sangat dibutuhkan agar kita tidak tersesat dan sampai ke tujuan yang benar. Demikian pula arca dan simbol: ia berfungsi memusatkan pikiran, memfokuskan rasa bhakti, dan menjadi perantara agar rasa cinta, rasa hormat, dan rasa persembahan kita dapat tercurah dengan tertuju kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Hal ini dipertegas dalam Kitab Sarasamuccaya Pupuh 13 pasal 4, yang menyatakan: "Ida Sang Hyang Widhi tidak berwujud, tidak bersifat, namun karena kasih sayang-Nya kepada makhluk, Dia bersedia hadir dalam segala wujud yang dipuja oleh umat-Nya sesuai dengan keinginan dan pemahaman masing-masing."
 
Semakin dalam kita mempelajari, merenungkan, dan memahami ajaran-ajaran suci Hindu, semakin kita akan disadarkan pada satu kebenaran yang mutlak: bahwa Tuhan itu melampaui segala bentuk, melampaui segala kata-kata, melampaui segala nama, dan melampaui segala imajinasi manusia. Segala nama yang kita berikan, segala bentuk yang kita gambarkan, dan segala pujian yang kita ucapkan hanyalah usaha kecil manusia untuk mendekat, namun belum mampu menggambarkan kebesaran-Nya. Di dalam Kitab Weda, Rigweda Mandala X syair 129, dinyatakan dengan sangat indah: "Sang Pencipta ada di atas di sana, di bawah di sini, ada di tengah-tengah, ada di segala penjuru. Dia ada di dalam segala sesuatu, dan ada pula di luar segala sesuatu. Tidak ada yang mampu mengikat-Nya, tidak ada yang mampu menggambarkan-Nya, Dia adalah Yang Esa tanpa kedua."
 
Pemahaman ini mengajarkan kita untuk tidak terjebak pada wujud luarnya saja, melainkan selalu melihat hakikat di balik wujud tersebut. Saat kita memandang arca, kita tidak memuja batu atau logamnya, melainkan memuja kekuatan dan kehadiran Tuhan yang ada di balik simbol itu. Saat kita melantunkan doa, kita tidak terikat pada bunyi katanya saja, melainkan mempersembahkan isi hati dan sanubari kita kepada-Nya. Semakin tinggi tingkat pemahaman dan kesadaran spiritual seseorang, semakin ia menyadari bahwa segala sarana itu hanyalah alat bantu, dan tujuan akhirnya hanyalah satu: bersatu dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Sang Sumber Segala Sumber, Yang Maha Tak Terbatas, yang melampaui segala batas dan pemahaman akal manusia.

Jumat, 01 Mei 2026

Jika Tuhan Hanya Satu, Mengapa Ada Banyak Agama?

Jika Tuhan Hanya Satu, Mengapa Ada Banyak Agama?
 
Frasa suci "Ekam Eva Adwityam Brahman" mengajarkan kita sebuah kebenaran mutlak yang paling dasar. Artinya: "Tuhan itu Satu, Tidak Ada Duanya." Hanya ada satu Sumber Kehidupan, satu Pencipta, dan satu Pengatur alam semesta ini. Tidak ada yang menyamai-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, dan tidak ada yang bisa menandingi kekuasaan-Nya.
 
Namun, ketika kita melihat kenyataan di dunia ini, pertanyaan besar pun muncul: "Jika Tuhannya hanya satu, mengapa jalan atau agamanya begitu banyak dan beraneka ragam?" Mengapa ada Hindu, Islam, Kristen, Buddha, dan berbagai kepercayaan lainnya? Apakah Tuhan yang berbeda-beda? Atau apakah salah satu dari jalan ini ada yang salah?
 
Jawabannya tersimpan dalam pemahaman yang indah dan luas tentang hakikat Tuhan dan manusia. Tuhan memang Satu, tetapi manusia yang memandang-Nya berbeda-beda. Seperti halnya air laut yang hanya satu, namun jika kita mengambilnya menggunakan wadah yang berbeda, bentuk dan warnanya akan tampak berbeda pula. Atau seperti matahari yang sama bersinar untuk semua orang, namun cara setiap orang menikmati hangatnya bisa berbeda-beda sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.
 
Dalam kitab suci Bhagavad Gita Bab 18 Ayat 46, Ida Sang Hyang Widhi Wasa berfirman melalui lisan Krishna:
 
"Sarva-karma-phala-phalam tyaktva yatate prabhavapyate |
Sa sarvam parityajya ya mam smarati tatprabhu ||"
 
Artinya:
 
"Orang yang menyerahkan segala buah dari perbuatan kepada Tuhan, dan yang berbakti kepada-Ku dengan pikiran yang tertuju kepada-Ku, ia akan mencapai kedamaian yang abadi."
 
Dan lebih jelas lagi dalam Bhagavad Gita Bab 4 Ayat 11:
 
"Ye yatha mam prapadyante tams tathaiva bhajamy aham |
Mama vartmanuvartate manushyah partha sarvasah ||"
 
Artinya:
 
"Jalan apa saja yang ditempuh oleh manusia untuk mendekat kepada-Ku, akan Kuterima jalan itu. Sebab dalam segala hal, wahai Partha, manusia itu selalu mengikuti jalan-Ku."
 
Ayat suci ini menjelaskan bahwa Tuhan itu Maha Penerima. Ia tidak menuntut manusia harus datang dengan cara yang kaku dan hanya satu cara. Karena manusia diciptakan dengan berbagai karakter, budaya, bahasa, dan tingkat pemahaman yang berbeda, maka Tuhan pun memberikan jalan yang berbeda-beda agar semua manusia bisa menjangkau-Nya.
 
Bayangkan sebuah gunung yang sangat tinggi. Puncaknya hanya satu, itu adalah Tuhan. Namun, jalan untuk mendakinya bisa dari utara, selatan, timur, maupun barat. Jalannya berbeda-beda, ada yang curam, ada yang landai, ada yang berhutan, ada yang berbatu. Tetapi tujuannya sama, yaitu mencapai puncak yang sama juga. Begitulah agama-agama di dunia ini. Namanya berbeda, caranya berbeda, ritualnya berbeda, namun tujuannya satu: mencari dan menyembah Sang Pencipta.
 
Perbedaan agama bukanlah bukti bahwa Tuhannya berbeda, melainkan bukti betapa Maha Besarnya Tuhan sehingga tidak bisa dikungkung oleh satu cara ibadah saja. Tuhan terlalu luas untuk dimasukkan ke dalam satu kotak pemahaman manusia.
 
Oleh karena itu, seharusnya perbedaan ini tidak menjadi alasan untuk saling bermusuhan atau merasa paling benar sendiri. Justru kita harus saling menghormati. Karena kita semua adalah saudara yang memiliki Bapak yang sama, hanya saja jalan pulang yang kita ambil berbeda sesuai dengan petunjuk yang kita terima.
 
Tuhan itu Satu, dan kasih-Nya meliputi semua makhluk, tanpa memandang nama agama apa yang dianutnya

Jika Tuhan Ada Dimana Mana, Mengapa Kita Harus Sembahyang Di Pura?

Jika Tuhan Ada Dimana Mana, Mengapa Kita Harus Sembahyang Di Pura?

Konsep Wyapa Wyapaka, atau Tuhan yang ada di mana-mana, merupakan inti ajaran agama Hindu. Kehadiran Tuhan yang maha esa dan tak terbatas ini bukanlah suatu konsep yang membatasi ibadah hanya di satu tempat tertentu, seperti pura. Pura, pada hakikatnya, merupakan tempat suci yang difungsikan sebagai stana, tempat persembahyangan dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keberadaannya sebagai tempat suci membantu umat Hindu untuk memfokuskan pikiran dan batin mereka dalam beribadah.
 
Kehadiran Tuhan yang wyapa wyapaka dijelaskan dalam berbagai kitab suci Hindu, seperti:
 
Dalam Bhagavad Gita 10.41-42, Tuhan digambarkan sebagai Akshara Brahman, yang tak tercipta, tak terhingga, dan meliputi segalanya. Kṛṣṇa, sebagai manifestasi Tuhan, menyatakan dirinya sebagai sumber dari segala sesuatu dan berada di dalam setiap makhluk. 
Sementara dalam Upanishad: menjelaskan konsep Brahman, realitas mutlak yang merupakan sumber dan dasar dari segala sesuatu. Brahman digambarkan sebagai nirguna Brahman (tanpa atribut) dan saguna Brahman (dengan atribut). Konsep wyapa wyapaka merupakan aspek nirguna Brahman, kehadiran Tuhan yang tak terbatas dan meliputi seluruh alam semesta. (Contoh: Chandogya Upanishad, 6.2.1)
Sedangkan Brahma Sutra merumuskan konsep Brahman secara sistematis, menjelaskan kesatuan dan kemahakuasaan Tuhan. Konsep wyapa wyapaka tersirat dalam penjelasan mengenai Brahman sebagai sumber dan dasar dari segala sesuatu.
 
Meskipun Tuhan ada di mana-mana (wyapa wyapaka), pura tetap memiliki peranan penting dalam kehidupan keagamaan umat Hindu. Pura bukanlah tempat untuk "mencari" Tuhan, karena Tuhan sudah ada di dalam diri setiap individu. Namun, pura berfungsi sebagai:
 
- Tempat untuk memfokuskan pikiran dan batin: Suasana sakral di pura membantu umat Hindu untuk berkonsentrasi dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
- Tempat untuk melakukan ritual dan persembahan: Ritual dan persembahan di pura merupakan wujud penghormatan dan bakti kepada Tuhan.
- Tempat untuk menjalin persatuan dan kebersamaan: Pura menjadi tempat berkumpulnya umat Hindu, mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan.
- Simbol manifestasi Tuhan: Pura dapat dianggap sebagai simbol kehadiran Tuhan di dunia.
 
Oleh karena itu, bersembahyang di pura bukan berarti membatasi keberadaan Tuhan hanya di tempat tersebut. Sebaliknya, itu merupakan suatu bentuk penghormatan dan upaya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang wyapa wyapaka, yang hadir di mana-mana, termasuk di dalam diri kita sendiri. Pura hanyalah sarana untuk mencapai tujuan spiritual yang lebih 

Jika Tuhan Ada di Mana-mana, Mengapa Kita Harus Mencari-Nya? 
 
Frasa yang sangat indah dan mendalam dalam ajaran Hindu Dharma mengajarkan bahwa Tuhan itu ada di mana-mana. Tidak ada satu pun titik di alam semesta ini yang luput dari kehadiran-Nya. Dia ada di langit, ada di bumi, ada di air, ada di angin, dan ada di dalam api. Segala sesuatu adalah perwujudan dari-Nya.
 
Lebih dari itu, ajaran suci juga menegaskan bahwa Tuhan tidak hanya berada di luar diri kita. Tuhan juga bersemayam di dalam hati kita sendiri. Ia hadir sebagai Atman, yaitu jiwa yang suci, yang merupakan percikan kecil, sinar, atau bagian tak terpisahkan dari Sang Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Seperti setetes air yang memiliki sifat yang sama dengan samudra luas, begitulah Atman di dalam diri kita bersifat sama dengan Brahman.
 
Jika kebenarannya sedemikian rupa, jika Tuhan itu sedekat nadi, bahkan lebih dekat daripada itu, maka muncullah pertanyaan besar yang sering membingungkan:
 
"Lalu untuk apa kita bersusah payah mencari Tuhan ke mana-mana? Mengapa kita harus pergi ke pura, ke gunung, atau ke tempat suci lainnya jika Dia sebenarnya sudah ada di dalam sini?"
 
Jawabannya terletak pada perbedaan antara pengetahuan dan pengalaman, serta perbedaan antara fakta dan kesadaran.
 
Memang benar secara hakikatnya Tuhan ada di mana-mana. Namun, mata hati kita sering kali buta. Pikiran kita terlalu banyak dipenuhi oleh keramaian, nafsu, keinginan duniawi, dan kekotoran batin. Seperti matahari yang sebenarnya selalu bersinar terang, tapi jika langit tertutup oleh awan hitam yang tebal, maka cahayanya tidak bisa sampai ke tanah. Begitulah Tuhan ada, tapi kita tidak bisa merasakan-Nya karena hati kita tertutup oleh kegelisahan dan kebodohan.
 
Kita "mencari" Tuhan ke mana-mana bukan karena Dia hilang atau bersembunyi. Kita mencari-Nya sebagai sebuah proses ingat kembali atau Anusmriti. Kita pergi ke tempat suci, kita duduk bersila, kita berdoa, itu semua adalah cara untuk menenangkan pikiran agar kita bisa sadar dan menyadari kehadiran-Nya yang sebenarnya sudah ada di dalam diri.
 
Sebagaimana tertulis jelas dalam kitab suci Bhagavad Gita Bab 6 Ayat 25:
 
"Sa shanti mabhigacchati mad-bhakto labhate param ||"
 
Artinya:
 
"Dengan pikiran yang terkendali dan tenang, seseorang akan mencapai kedamaian dan akhirnya bersatu dengan-Ku."
 
Ayat ini mengajarkan bahwa proses mencari itu adalah upaya untuk menenangkan batin. Saat kita pergi ke pura, lingkungan yang suci membantu kita untuk lebih mudah khusyuk. Saat kita melihat arca atau simbol Tuhan, itu membantu kita memfokuskan pikiran yang tadinya liar agar bisa tertuju pada-Nya.
 
Selain itu, ada juga dalil dari ajaran Upanishad yang berbunyi:
 
"Brahma Satyam Jagat Mithya"
(Brahman itu benar/nyata, dunia ini tidak kekal)
 
Dan juga ajaran "Aham Brahmasmi" yang artinya "Aku adalah Brahman".
 
Namun, menyadari "Aku adalah Brahman" tidak bisa didapatkan hanya dengan membaca buku. Itu harus dicari melalui latihan batin, melalui ibadah, dan melalui perjalanan spiritual. Kita mencari Tuhan ke luar agar kita bisa menemukan-Nya ke dalam.
 
Jadi, jangan salah paham. Kita tidak mencari karena Tuhan jauh. Kita mencari karena kita sendiri yang sering lupa dan jauh dari kesadaran. Aktivitas beribadah, pergi ke tempat suci, dan memuja Tuhan adalah cara kita membersihkan cermin hati, sehingga pada akhirnya kita bisa melihat dengan jelas bahwa Tuhan itu ada di luar, ada di dalam, dan ada di segala tempat