Mengapa Nama Tuhan Dalam Hindu Bisa Sampai Ribuan?
Kalau kamu pernah lihat orang Hindu sembahyang, mungkin kamu bingung. Ada yang menyebut Ida Sang Hyang Widhi Wasa, ada yang menyebut Brahma, Wisnu, Siwa, ada juga Saraswati, Ganesha, Durga, Bayu, Baruna, dan sederet nama lainnya. Saking banyaknya sampai mikir, "Lho Tuhan Hindu itu banyak banget apa gimana sih?" Padahal inti ajaran Hindu dari dulu cuma satu: Tuhan itu Esa. Nah loh, gimana ceritanya?
Jawabannya simpel tapi dalem: nama-nama itu bukan berarti Tuhannya beda-beda. Itu semua adalah nama untuk menyebut Satu Tuhan yang sama, cuma dari sisi dan fungsi yang berbeda-beda. Ibarat matahari. Mau kamu sebut "matahari", "surya", "aditya", "baskara", "sang surya" — bendanya tetap satu. Cuma tiap nama itu nyorot sifatnya yang beda. Ada yang nyorot sifatnya sebagai pemberi panas, pemberi terang, pemberi kehidupan.
Hindu ngajarin konsep yang namanya _Ekam Sat Viprah Bahudha Vadanti_. Kalimat ini ada di Rig Weda X.114.5 dan bunyinya: _“Ekam sat viprā bahudhā vadanti”_ yang artinya "Kebenaran itu hanya satu, orang-orang bijaksana menyebutnya dengan banyak nama". Jadi dari awal Weda sendiri udah ngasih tau: Tuhan itu satu, tapi cara manusia menyebut dan mendekat bisa banyak banget. Nggak ada yang salah, semua sah.
Terus kenapa harus banyak nama? Karena manusia itu unik dan kebutuhannya juga beda-beda. Ada orang yang lagi butuh ketenangan, dia akan lebih dekat nyebut nama Siwa sebagai pelebur kejahatan dan pemberi kedamaian. Ada orang yang lagi butuh rezeki dan pemeliharaan, dia akan dekat dengan Wisnu sang Pemelihara. Ada yang lagi ujian, butuh ilmu, dia akan memuja Saraswati dewi ilmu pengetahuan. Ada yang mau mulai usaha, dia sembahyang ke Ganesha biar nggak ada halangan.
Ini bukan berarti Tuhannya ganti-ganti. Ini sama kayak kita manggil orang tua. Di rumah kita panggil "Bapak", di kantor orang manggil "Pak Direktur", di sekolah anak-anak manggil "Pak Guru". Orangnya tetap satu, tapi perannya beda-beda sesuai kebutuhan kita. Tuhan dalam Hindu juga gitu. Beliau punya banyak _swarupa_, banyak wujud dan nama sesuai bagaimana Beliau bekerja di alam semesta ini.
Kitab suci Hindu nyebut proses kerja Tuhan itu dengan Tri Murti. Brahma sebagai _Utpeti_, yang menciptakan. Wisnu sebagai _Stiti_, yang memelihara. Siwa sebagai _Pralina_, yang melebur atau mengembalikan. Tiga nama, tiga fungsi, tapi sumbernya satu: Sang Hyang Widhi Wasa. Di dalam Bhagavad Gita Bab 10 Sloka 20, Sri Krishna bilang: _“Aham ātmā guḍākeśa sarva-bhūtāśaya-sthitaḥ, aham ādiś ca madhyaṁ ca bhūtānām anta eva ca”_ — "Aku adalah Atma yang bersemayam di hati semua makhluk. Aku adalah awal, pertengahan, dan akhir dari semua yang ada". Jadi semua nama itu ujung-ujungnya balik ke Dia yang satu.
Selain Tri Murti, ada juga nama berdasarkan unsur. Ada Dewa Bayu penguasa angin, Dewa Baruna penguasa air, Dewa Agni penguasa api, Dewa Surya penguasa matahari. Kenapa? Karena dalam Hindu, alam ini dianggap sakral. Semua unsur itu adalah manifestasi Tuhan. Jadi pas kita menghormati air, kita sekalian menghormati Tuhan yang ada di dalam air itu. Pas kita menghormati pohon, kita menghormati Tuhan yang menghidupi pohon itu. Makanya nama Tuhan jadi banyak, karena manifestasi-Nya memang ada di mana-mana. Ini nyambung sama konsep _Wyapa Wyapaka_ — Tuhan yang meliputi dan menembus segalanya.
Lalu ada juga nama berdasarkan sifat. Tuhan Maha Pengasih disebut Siwa, Maha Pemurah disebut Wisnu, Maha Bijaksana disebut Saraswati, Maha Kuat disebut Durga. Manusia butuh pegangan. Saat kita takut kita butuh sosok pelindung, saat kita bingung kita butuh sosok pemberi jalan. Nama-nama itu jadi "jalan masuk" buat kita yang pikirannya masih terbatas.
Yang keren, Hindu nggak pernah maksa "kamu harus nyebut nama ini". Bebas. Mau nyebut Tuhan, Gusti, Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa, juga boleh. Di Bhagavad Gita Bab 4 Sloka 11 Krishna bilang: _“Ye yathā māṁ prapadyante tāṁs tathaiva bhajāmyaham”_ — "Dengan cara apapun manusia menyembah-Ku, dengan cara itu pula Aku akan membalas mereka". Jadi Tuhan nggak rewel soal nama. Yang Dia liat itu tulusnya hati kita.
Makanya jangan kaget kalau di Bali ada Pura Dalem, Pura Puseh, Pura Desa, Pura Segara. Tiap tempat pemujaan itu fokus ke aspek Tuhan yang berbeda sesuai kebutuhan desa dan alam sekitar. Di pura segara sembahyang ke manifestasi Tuhan sebagai penguasa laut. Di pura gunung sembahyang ke manifestasi Tuhan sebagai sumber air. Tujuannya satu: biar manusia tetap inget dan selaras sama alam dan Sang Pencipta.
Jadi, banyaknya nama Tuhan dalam Hindu itu bukan tanda Tuhannya banyak. Itu justru bukti kalau Tuhan itu Maha Luas, Maha Lengkap, dan mau ditemui dari jalan manapun. Dia ngerti manusia punya ribuan rasa, ribuan masalah, ribuan cara buat jatuh cinta.
Pada akhirnya semua nama itu cuma jari yang nunjuk ke bulan. Jangan kejebak ribut soal jarinya. Liat aja bulannya. Dan bulannya cuma satu. Namanya boleh beda-beda, tapi cinta dan kasih-Nya tetap sama untuk semua makhluk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar